Laman

Minggu, 02 Mei 2010

Vaksinasi

Sedikit jengkel beberapa waktu lalu saat baca postingan seseorang yang mengetag saya di facebook. Isi postingan tersebut menitikberatkan pada vaksinasi yang sedikit bermanfaat dan mempunyai banyak mudharat, dan diakhir postingan disebutkan bahwa tidak perlu vaksinasi lagi dan mari beralih ke pengobatan herbal.



Kenapa saya lantas menjadi sedikit jengkel?



Faktanya, ketika saya kepaniteraan klinik di departemen anak, semua anak yang terkena difteri hingga obstruki nafas derajat 3-4 adalah anak-anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi DPT dan ulangannya. Atau anak-anak dengan campak, mereka adalah yang tidak dibawa untuk imunisasi campak. Disekitar kita, orang-orang yang sebelah kakinya lumpuh layu, hipotrofi, adalah mereka yang imunisasi polio-nya tidak pernah diberikan ataupun yang tidak lengkap. Atau anak-anak yang menderita tuberkulosis, kelengkapan BCG mereka pun patut dipertanyakan. Sedangkan yang mendapatkan imunisasi BCG pun tak lantas bebas dari penyakit menular ini.

Ketika saya kepaniteraan klinik di departemen bedah, semua bapak yang tertusuk paku atau benda sejenisnya berakhir dengan tetanus selain karena keterlambatan datang berobat, mereka adalah orang-orang yang tidak mendapatkan imunisasi DPT.

Negara kita adalah negara dengan sejuta sumber penyakit dengan status imun yang berkaitan dengan status gizi yang rendah penduduknya. Betapa kita masih memerlukan vaksinasi! Kalau ada cara lain selain vaksinasi yang bisa mencegah penyakit seperti polio, campak, tetanus, tuberkulosis dan difteri, saya akan sangat senang hati. Berikan solusi jangan cuma hanya mengatakan ini buruk, sementara solusi yang bisa kita berikan agar si buruk tadi bisa dihilangkan dengan si baik yang bisa kita kontribusikan bagi dunia kesehatan.

Sejarah vaksinasi tidak terlepas dari nama seorang ilmuwan Inggris, Edward Jenner. Edaward Jenner berhasil mengambil sebuah materi dari cacar yang ditularkan oleh sapi (cowpox) pada tahun 1796. Namun sesungguhnya, vaksinasi telah dikembangkan di Cina di tahun 200 masehi. Pada tahun 1880, Louis Pasteur telah menemukan cara vaksinasi untuk pencegahan infeksi melalui agen penyakit yang dilemahkan. Selanjutnya tahun 1886 Salmon dan Smith di Amerika Serikat telah memperkenalkan vaksin inaktif dengan menggunakan bakteri vibrio cholera yang dimatikan dengan pemanasan. Berdasarkan bahan imun yang digunakan ada dua jenis vaksin, yaitu vaksin hidup (aktif) dan vaksin inaktif.

Vaksin hidup terbuat dari virus hidup yang diatenuasikan dengan cara pasase berseri pada biakan sel tertentu atau telur ayam berembrio. Dalam proses ini akumulasi dari mutasi umumnya menyebabkan hilangnya virulensi virus secara progresif bagi inang aslinya. Didalam vaksin mengandung virus hidup yang dapat berkembang biak dan merangsang respon imun tanpa menimbulkan sakit.

Vaksin inaktif dihasilkan dengan menghancurkan infektivitasnya sedangkan imunogenitasnya masih dipertahankan dengan cara; (1) fisik misalnya dengan pemanasan, radiasi (2) chemis, dengan bahan kimia fenol, betapropiolakton, formaldehid, etilenimin. Dengan perlakuan ini virus menjadi inaktif tetapi imunogenitasnya masih ada.

Dahulu, sebelum ditemukannya vaksin, banyak penyakit yang tidak bisa kita cegah perkembangannya yang berujung kepada kematian. Bayangkan, cacar air saja bisa menyebabkan kematian! Namun, setelah ada vaksinasi, penyakit tersebut bisa kita cegah. Dengan diimunisasi akan muncul kekebalan aktif pada tubuh anak terhadap penyakit, dan walaupun tetap terkena maka akan lebih ringan dibandingkan anak-anak yang tidak diimunisasi.

Yang sering dikhawatirkan oleh ibu-ibu bila anaknya divaksinasi/diimunisasi, adalah kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) sepeti demam ringan sampai tinggi, bengkak, kemerahan, agak rewel. Itu adalah reaksi yang umum terjadi setelah imunisasi. Umumnya akan hilang dalam 3-4 hari, walaupun kadang-kadang ada yang berlangsung lebih lama. Boleh diberikan obat penurun panas tiap 4 jam, dikompres air hangat, pakaian tipis, jangan diselimuti, sering minum ASI, jus buah atau susu. Bila tidak ada perbaikan, atau bertambah berat segera kontrol ke dokter.

Mungkin beberapa dari kita pernah mendengar seorang anak yang lumpuh setelah divaksinasi, Sinta Bela. Setelah dirontgen tulang belakangnya, Sinta mengidap tuberkulosis di tulang belakang. Jadi, lumpuhnya Sinta bukan karena imunisasi tapi karena penyakit lain. Juga berita yang mengejutkan, beberapa anak di Jawa Barat menjadi lumpuh setelah divaksin polio. Dan setelah dilakukan pemeriksaan virologi, anak-anak tersebut telah terinfeksi polio liar sebelumnya. Autisme yang dulu diduga akibat merkuri atau vaksinasi MMR, ternyata berbagai lembaga penelitian resmi di luar negeri menyatakan tidak ada hubungan MMR dengan autisme atau kandungan merkuri di dalam tubuhnya ternyata tidak tinggi Beberapa KIPI berat lain, setelah diperiksa oleh ahli-ahli di bidangnya terbukti bahwa KIPI tersebut akibat penyakit lain yang sudah ada sebelumnya, bukan oleh imunisasi.

Perlu diketahui bahwa, negara maju pun masih memerlukan vaksin sebagai pencegahan infeksi. Lalu, masihkah kita mau mengorbankan anak-anak masa depan kita hanya karena KATANYA vaksin itu berbahaya?!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar